Sebut saja cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran.
Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan.
Setelah berulang kali jatuh cinta dan patah hati.
Setelah berulang kali kamu menemukan, kemudian akhirnya melepaskan.
Setelah berulang kali bersyukur atas sebuah pertemuan dan belajar atas perpisahan.
Setelah berulang kali menemukan rumah, namun kamu hanya dianggap sebagai tempat singgah.
Setelah kamu merasa dialah orang yang tepat, sampai kepadanyalah hatimu menutup pintu rapat-rapat.
Setelah segalanya yang terjadi, masihkah kamu percaya dengan cinta?
Cari Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label Senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senja. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 23 April 2016
Kamis, 04 Februari 2016
R-I-N-D-U
Ini
rindu.
Tertuang
dalam secangkir Cappuccino hangat dihadapanku.
Kepulan-kepulan
asapnya menari-nari semenjak terhirup dan menstimulasikan kenangan akan
semangat dari dirimu.
Demi
waktu yang berputar dan menceritakan betapa kokohnya dirimu
Demi
waktu yang berputar dan mengilusikan harapan dan pemikiran di masa depan,
bersamamu. Maka aku yakin, ini rindu.
Seperti biasa aku dengan kesibukan setelah selesai dengan kesibukanku yang sebelumnya.
Seperti biasa aku dengan kesibukan setelah selesai dengan kesibukanku yang sebelumnya.
Atau
mungkin lebih tepatnya ku sebut ini ritualku.
Secangkir
Cappuccino hangat, sejumlah imajinasi, dan sekian waktu suasana senja.
Aku
mencari ketenangan dan nafas sesaat untuk sekedar menikmati dan memanjakan
duniaku. Beruntungnya ritualku ini tertuju kepada satu objek yang pasti dengan
ditambah bumbu yang bernama rindu, kamu.
Lalu
sekejap aku ikuti permainan sang waktu dan imajinasiku dalam ritualku kali ini.
Yaitu,
Merindukanmu
Terdengar
alunan musik yang menghentak perlahan.
Nada-nada
dan irama yang beresonansi membentuk sebuah dimensi baru dalam khayalku.
Melangkah arungi alam bawah sadarku.
Semua
itu bercampur dengan keindahan layaknya fatamorgana.
Dan
semua itu, sekali lagi, bermuara dan tertuju kepadamu, satu. Tanpa spasi, hanya
saja kini berupa imaji.
Waktu telah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit sore. Malam telah tiba. Cappuccino pun telah habis. Ritualku telah berakhir. Aku kembali kedunia nyata, menyimpan kembali imajinasi dan alam bawah sadarku untuk ritual-ritualku selanjutnya.
Waktu telah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit sore. Malam telah tiba. Cappuccino pun telah habis. Ritualku telah berakhir. Aku kembali kedunia nyata, menyimpan kembali imajinasi dan alam bawah sadarku untuk ritual-ritualku selanjutnya.
Lalu
aku tangkap cahaya dari kedua bola matanya.
Untuk
kusimpan dalam tabungan rindu dan penerang dikala mimpi menguapkan bunga
tidurku dalam lelapku nanti malam.
Sukabumi, 4 Februari 2016
Sukabumi, 4 Februari 2016
Selamat
malam,
Kamis, 21 Mei 2015
I wanna play with shadows)
Aku memandang senja dari balik jendela kamar. Langit
berwarna keemasan, bersenyawa dengan ratusan warna yang membias muncrat
memenuhi mega. Senja kali ini muram,seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Aku
tidak galau. Tidak juga rindu. Terlebih lagi gerimis. Entah kenapa akhir-akhir
ini aku hanya ingin menulis tentang banyak hal yang berbeda, berserak, untuk
kemudian menyatukannya meski aku sendiri tak mengerti. Rasanya melayang.
Seperti kupu-kupu bersayap elok yang terbang melintasi beranda, ranting
pepohonan, bubungan rumah, hingga menuju angkasa. Bebas. Tanpa sedikitpun
cemas. Seperti gerimis yang mampu membawa pelangi di senja hari, aku ingin
sekuat itu.
Hidup ini mungkin seperti lembaran novel. Ada bagian yang ingin kucatat ulang untuk kemudian kuhapalkan baris demi barisnya. Adapula bagian yang tak ingin kusentuh sama sekali. Tiap-tiap bagian adalah sebuah karya. Tentunya bukan mahakarya yang tak pernah ingin kau selesaikan bukan? Aku ingin mengukir jalanku. Ada banyak hal yang menunggu untuk kau renungi, kau hadapi, juga kau raba kembali. Membaca ulang tentang Dinda, Atra, ataupun sang inspirator yang takkan pernah kutemui lagi di kemudian hari. Begitu pula dengan kisahmu hari ini. Hargailah sang waktu, dan cintailah apa yang ada di hadapanmu meski kau tak ingin.
“Karena kamu suka hujan, menjadilah seperti ia.”
Pernahkah kau menulis tanpa rasa? Maka beginilah (mungkin) yang saya maksud...hambar..tanpa saya pun mengerti apa yang saya tulis.. -____- *penat*
Hidup ini mungkin seperti lembaran novel. Ada bagian yang ingin kucatat ulang untuk kemudian kuhapalkan baris demi barisnya. Adapula bagian yang tak ingin kusentuh sama sekali. Tiap-tiap bagian adalah sebuah karya. Tentunya bukan mahakarya yang tak pernah ingin kau selesaikan bukan? Aku ingin mengukir jalanku. Ada banyak hal yang menunggu untuk kau renungi, kau hadapi, juga kau raba kembali. Membaca ulang tentang Dinda, Atra, ataupun sang inspirator yang takkan pernah kutemui lagi di kemudian hari. Begitu pula dengan kisahmu hari ini. Hargailah sang waktu, dan cintailah apa yang ada di hadapanmu meski kau tak ingin.
“Karena kamu suka hujan, menjadilah seperti ia.”
Pernahkah kau menulis tanpa rasa? Maka beginilah (mungkin) yang saya maksud...hambar..tanpa saya pun mengerti apa yang saya tulis.. -____- *penat*
Langganan:
Postingan (Atom)
